Wokshop Batik Lukis untuk Mahasiswa Seni Rupa Murni

Batik adalah identitas budaya Indonesia. UNESCO sendiri secara resmi telah mengakui bahwa batik merupakan warisan budaya sejak 2009 lalu. Namun bukan hanya identitas yang dimiliki secara nasional, secara kedaerahan batik juga menjadi identitas, karena dari Sabang sampai Merauke punya ciri batik masing-masing. Oleh karena itu, adalah kewajiban warga Indonesia untuk menjaga kelestarian batik. Jurusan Seni Rupa sebagai salah satu instansi yang memberikan wadah untuk pelestarian budaya, pada Kamis 7 November 2019, mengadakan Workshop Batik Lukis. Workshop ini diikuti oleh 5 mahasiswa yang berasal dari Program Studi Seni Rupa Murni. Workshop dimulai pada pukul 08.00 WIB dan berakhir pada pukul 19.00 WIB. Workshop dimulai dengan pengenalan secara singat mengenai alat dan bahan dalam membatik serta contoh-contoh karya dari batik lukis, setelah itu peserta langsung melakukan praktek. Fera Ratnanigrum, S.Pd., M.Pd., sebagai narasuber dalam workshop ini menyampaikan bahwa salah satu tujuan dari workshop ini adalah untuk mengenalkan proses membuat batik kepada mahasiswa Seni Rupa Murni, karena dalam kurikulum mereka tidak ada mata kuliah batik. “Dengan diadakan workshop ini diharapkan mahasiswa Seni Rupa Murni dapat mengenal lebih banyak medium yang kemudian dapat mereka terapkan dalam karya yang mereka buat”, ujarnya.

Screen Shot 2019-11-08 at 08.09.59Mahasiswa yang terlibat dalam workshop sangat antusias. Mereka membatik dalam beragam gaya serta ukuran kain yang berbeda-beda. Berbekal pendidikan yang mereka dapatkan sebagai mahasiswa Seni Rupa Murni, karya yang mereka buat bukan terbatas pada batik secara konvensional. Namun dalam batik lukis ini terepresentasikan kecenderungan mereka dalam berkarya. Sehingga walau menggunakan teknik untuk membuat batik, mereka tetap dapat menunjukan ciri khas mereka.

Screen Shot 2019-11-08 at 08.09.24Seluruh peserta mengaku senang saat mengikuti workshop batik ini karena mereka dapat mencoba medium yang jarang mereka gunakan. Peserta menuangkan beragam gagasan dalam karyanya.  Seperti pada karya Gilang (mahasiswa Seni Rupa Murni angkatan 2016) yang tergambar aksara jawa, tumbuhan, kunci, dan petromak didalam segitiga. Karya tersebut mengajak untuk mengingatkan akan pentingnya mengenal kembali budaya yang kita miliki. Dengan menyadari kehibatan budaya yang dimiliki, dapat menjadi kunci yang menerangi kehidupan dan menuju sepiritualitas. Lain halnya dengan karya Shalihah (mahasiswa Seni Rupa Murni angkatan 2016), karya yang ia buat sebagai wujud kontemplasi dan healing pada dirinya. Ia mengambar perempuan dalam setiap ujung sisi yang memiliki ekspresi bahagia dan berfikir. Pada bagian tengah terdapat sebuah mandala yang dikelilingi awan, bintang, kupu-kupu dan bunga. Karya tersebut bermaksut mengajak untuk menyadari bahwasannya masalah selalu ada, hadapi itu dengan bahagia dan gunakan kekuatan terbesar manusia yaitu dengan berfikir. Ia menggunakan warna biru, pink, ungu karena merupakan warna untuk mengobati jiwa. Lebih lanjut menyampaikan pula bahwa setiap manusia memiliki pusatnya masing-masing sehingga setiap masalah dapat dihadapi dengan cara yang beraneka ragam.

Screen Shot 2019-11-08 at 08.09.40Firmansyah (mahasiswa Seni Rupa Murni angkatan 2016) menyampaikan bahwa dalam workshop ini, ia belajar banyak hal terkait teknik yang dapat ia terapkan dalam berkarya. Ia pun mendapat banyak ide untuk membuat karya-karya abstrak yang akan ia buat selanjutnya. Dalam workshop ini, Firman mengoreskan cantingnya dengan ekspresif sehingga membentuk lukisan abstrak yang indah. Kemudian Isyaroh (mahasiswa Seni Rupa Murni angkatan 2016) menyampaikan bahwa dalam karya yang ia buat ini merupakan bentuk rasa syukurnya kepada Allah SWT. Isyaroh membuat batik dengan aneka huruf Hijaiyah dan beberapa kaligrafi tulisan arab. Karya ini nantinya oleh Isyaroh akan dipamerkan pada pameran di Pasuruan mendatang. (Shaliha)

 

Comments are closed.

© 2014 JURUSAN SENI RUPA . ALL RIGHTS RESERVED.