Kuliah Tamu “Seni dan Daya Hidup” oleh Diane Butler, Ph.D.

Jum’at, 30 Agustus 2019 Jurusan Seni Rupa, Jurusan Desain, dan Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Senim Universitas Negeri Surabaya mengadakan Kuliah Tamu dengan Judul “Seni dan Daya Hidup”. Pada acara ini di hadiri oleh lebih 200 mahasiswa. Acara ini dilaksanakan di halaman gedung T13 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Screen Shot 2019-08-31 at 17.03.58Pemateri kuliah tamu adalah Diane Butler, Ph.D., atau biasa di panggil Diana. Beliau adalah seorang seniman performance yang menggunakan tubuh sebagai media berkaryanya. Ia merupakan alumnus Studi Doktoral Kajian Budaya, Universitas Udayana, dan mengelola Internasional Foundation for Dharma Nature Time and Cultural Doctoral Program Study, Universitas Udayana. Ia berasal dari Amerika dan pernah mendirikan sekolah kecil disana, kemudian tertarik dengan Indonesia dan sejak 2001 tinggal di Bali, Indonesia.

Picture1Diana mengatakan bahwa semua orang punya bahasanya sendiri, terutama sebagai seniman. Setiap manusia punya bahasa seni dengan ciri khasnya masing-masing sesuai dengan akar budayanya. Dalam performancenya ia menggunakan tubuhnya yang tak lagi muda, dengan sehelai kain putih sekitar 5 meter, tubuhnya berinteraksi dan menyatu dengan alam. Diawali dengan masukknya 3 orang penari berpakaian hijau dan kuning, Diana dengan bebas dan lihai menyatu dengan mereka, ia tak menggunakan gerakan yang sama namun ia menggunakan gerakan nya sendiri yang tetap serasi dan nyaman untuk di nikmati. Diana menjelaskan, bahwa sehat dan bahagia maka akan memancarkan daya hidup. Manusia yang hidup berdampingan dengan manusia lain, berdampingan pula dengan tanah, batu, angin dan lingkungan dalam satu kesatuan ruang.

Mungkin dalam kuliah tamu kali ini bila di lihat dari segi mahasiswa yang terlibat akan bertanya-tanya mengapa bukan mahasiswa sendratasik saja namun juga mahasiswa seni rupa dan desain juga ikut untuk di undang dan hadir. Hal ini dikarenakan ada hubungan antara seni rupa dan desain dengan performance. Pameran sangat berhubungan dengan ruang yang secara tidak langsung menjadi sebuah pagelaran dan tontonan. Penguasaan dan pengaturan ruang sangat mempengaruhi narasi-narasi yang dibawa oleh karya-karya seni yang di pajang untuk dihadirkan kepada penonton, hal inilah yang kemudian di tunjukkan oleh Diana. Ia mengajak penonton untuk ikut melakukan performance. Picture1mSecara bergiliran setiap 15 audiens terlibat dan melakukan performance. Dengan hanya memberi sedikit instruksi singkat, ia meminta mereka untuk berinteraksi dengan 3 buah batu selama 4 menit dengan bergerak serta berinteraksi dengan ruang yang mereka buat. Terlihat dari wajah penonton bahwa mereka kebingungan namun hal itu sengaja di lakukan karena ia tak ingin terlalu menuntun dan membebaskan mereka untuk berinteraksi. Menurutnya ini sangat penting untuk bekal kepada mahasiswa sebagai seniman dan nantinya sebagai orang tua untuk dapat berfikir mandiri dan dapat selalu menyesuaikan dirinya dalam berbagai situasi dan kondisi. Selama para mahasiswa melakukan performance, Diana juga mengikutinya dengan bergerak diantara mereka dengan kain putih panjang yang menjuntai dan tak jarang berinteraksi dengan peserta. Salah satu dosen terlihat penasaran dan mengikuti gerakan berputar-putar yang dilakukan oleh peserta. Pada kloter berikutnya bapak ibu dosen juga ikut melakukan performance bersama mahasiswa. Mereka menggunakan gerakannya masing-masing dengan berinteraksi dengan batu dan kain.

Setelah performance selesai, Diana menjelaskan bahwa ia menjalani dan menikmati jalan hidup yang dijalani. Termasuk memilih Indonesia yang baginya merupakan negara yang spesial karena memiliki beragam suku, bahasa, dan agama; dan mereka hidup saling berdampingan. Baginya itu mirip dengan daya hidup yang berbeda-beda namun saling melengkapi dan berdampingan.

IMG-20190830-WA0075Dari kuliah tamu hari ini, Satya salah satu mahasiswa Seni Rupa Murni mengatakan bahwa ia suka dan senang dengan topik yang dibicarakan. Walau dalam segi bahasa, di mana Diana menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia sehingga beberapa mahasiswa sulit memahami namun dengan diajaknya audiens untuk berinteraksi secara langsung, ia dapat lebih menghayati dan merasa menyatu dengan alam. (Shalihah_SRM16)

Comments are closed.

© 2014 JURUSAN SENI RUPA . ALL RIGHTS RESERVED.