Jurusan Seni Rupa dan Jurusan Desain UNESA Menyelenggarakan Kuliah Tamu untuk Meningkatkan Daya Kreatif pada Mahasiswa ‘Zaman Now’

Kuliah tamu dengan tema Profesionalisme dan Kreativitas dalam Seni dan Desain diselenggarakan oleh Jurusan Seni Rupa dan Jurusan Desain FBS UNESA pada hari Rabu 26 September 2018, di Auditorium Prof. Dr. Leo Idra Ardiana, M.Pd. Acara tersebut dimulai pada pukul 08.30-11.30. Acara ini bersifat wajib bagi mahasiswa Seni Rupa dan Desain angkatan 2017 dan 2018, dan bagi mahasiswa angkatan lain yang ingin mengikuti kuliah tamu ini. Oleh karenanya, dari jumlah peserta mencapai sekitar 400 peserta.

DSC_0013

Muh Ariffudin Islam, M.Sn., sebagai ketua panitia dalam sambutan pembukaan kegiatan memaparkan salah satu tujuan menghadirkan dua narasumber yang memiliki reputasi yang sudah tidak diragukan lagi dalam bidang seni rupa dan desain, adalah untuk memberikan motivasi dan wawasan yang luas dalam dunia Kesenirupaan dan Desain Grafis (Desain Komunikasi Visual) kepada mahasiswa Jurusan Seni Rupa dan Jurusan Desain. Diharapkan dari materi yang disampaikan oleh narasumber, dapat memunculkan pertanyaan dari mahasiswa, sehingga jawaban yang disampaikan oleh nara sumber dapat menjawab kegelisahaan mahasiswa khususnya dalam hal profesionalisme dan kreativitas di dunia Seni Rupa dan Desain Grafis (Desain Komunikasi Visual). Pada akhir sambutan, Ariffudin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya acara ini.

DSC_0049

Acara ini dimoderatori oleh Marsudi, M.Pd., sekertaris Jurusan Desain FBS UNESA. Pembicara pertama pada kesempatan kali ini adalah Freddy H. Istanto dari Universitas Ciputra, Surabaya, dengan topik Kreativitas dan Inovasi dalam Industri Kreatif.  Freddy memulai materinya dengan penjelasan tentang pergantian era, dari otot ke otak, dari ‘yang tua’ menuju ‘yang muda’. Pemanfaatan kreativitas untuk creative industry yang menuju ke arena dunia digital, IT, dan cyberspace. Mahasiswa ‘zaman now’ sebagai individu milenial, harus mampu mengembangkan daya pikirnya agar dapat melihat hal kecil sebagai sebuah inspirasi dalam berkarya sehingga dapat diolah menjadi karya besar yang dapat memengaruhi masyarakat. Freddy mengibaratkan, tantangan yang dihadapi anak muda saat ini dibandingkan dengan dahulu sangatlah berbeda. “Zaman dulu, saya itu saingannya cuma tetangga sebelah. Dia bikin A, ah saya juga bisa. Tapi kalian saingannya seluruh dunia, karena kalian melihat seluruh dunia dengan mudah. Maka semangatlah dengan membawa identitas kultural kalian yang bisa bersaing di kancah global”, ujarnya. “Zaman ini tidak menerima orang-orang malas”, lanjut Freddy. Berkaitan dengan tantangan dan hambatan utamanya, Freddy menuturkan bahwa sifat generasi milenial adalah ‘malas’ karena terlalu dimanjakan dengan teknologi. Berbeda dengan zamannya dulu, yang benar-benar dituntut untuk memiliki profesionalitas.

Individu milenial harus memiliki daya kreatif yang tinggi sesuai dengan perkembangan zaman. Kreativitas bisa didapatkan dari mana saja, terutama jika anak muda memiliki kepekaan yang tinggi. Tingkat kajian terhadap eksosistem sekitar akan memberikan inspirasi yang kaya, karena ekosistem sekitar tidak akan habis, tergantung bagaimana cara anak muda mencari celah dan mengkajinya. Untuk memiliki kepekaan tersebut, bisa dimulai dari passion. “Kekuatan terbesar dari industri kreatif adalah passion”, ujarnya.

DSC_0076

Putu Sutawijaya menjadi pembicara kedua, dengan topik Profesionalitas Seni di Era Global. Putu adalah owner dari Sangkring Art Space, Sangkring Art Project, dan Bale Banjar Sangkring yang berlokasi di Yogyakarta. Putu mengawali dengan penjelasan tentang Jawa Timur yang dianggapnya memiliki kekuatan seni rupa yang luar biasa, mulai dari data artefak, perupa, dan perjalanan seni lainnya. Putu menghimbau agar mahasiswa UNESA mencari identitas seni rupa dari kekuatan lokalitas Jawa Timur sebagai kekuatan kultural.

Jika tidak ada kesadaran sensitivitas terhadap kekayaan seni di Jawa Timur, maka akan berpotensi untuk ‘dicuri’ oleh orang lain dari daerah lain. Putu menekankan pentingnya riset dalam bidang seni bagi seniman muda. Hal tersebut didasari atas era milenial kini, yang sangat terbuka bagi anak muda untuk mengeksplorasi kreativitas berkaryanya.

DSC_0070

Lebih lanjut, Putu memaparkan tentang pentingnya seniman membuat ruang sebagai arena komunikasi, interaksi, dan mejadi perkembangan di dunia global. Ruang dapat diartikan sebagai tempat atau space, komunitas, yang di dalamnya terdapat aspek-aspek yang mendukung perkembangan kreativitas. “Perupa harus membangun ruang sebagai wadah profesionalitas dan intelektualitas seniman, selain itu juga mampu berkontribusi dalam kepentingan publik, seperti misalnya ketika Sangkring menjadi tempat Biennale Jogja 2009, tempat magang mahasiswa UNESA beberapa waktu yang lalu”, ujarnya. Ketika membina ruang, target investasinya adalah investasi kebudayaan, bukan investasi ekonomi. “Ruang ini (Sangkring-red) adalah ruang belajar, ruang intelektualitas, jadi tidak mengutamakan profit. Yang namanya intelektualitas, tidak akan pernah mati. Ruang yang ramah, milik publik, milik seniman. Maka ketika semua merasa memiliki, akan senantiasa ikhlas untuk merawat dan menghidupi ruang tersebut”. Lebih lanjut Putu mengatakan “Perupa harus punya pijakan awal yang kokoh dalam perjalanannya di bidang seni, memaknai dan memahami apa itu seni bagi dirinya sendiri. Bekerja keras dan berani melakukan hal yang lebih”. Dunia akan memberikan respek terhadap perupa-perupa yang mau bekerja keras. (tjs)

 

Comments are closed.

© 2014 JURUSAN SENI RUPA . ALL RIGHTS RESERVED.