Seminar Nasional Seni dan Desain 2018 “Konvergensi Keilmuan Seni Rupa dan Desain Era 4.0″

Sep 1, 2018 to Oct 25, 2018 9.00 AM - 4.00 PM

Dunia memasuki abad ke-21 diwarnai perubahan-perubahan radikal. Perubahan itu didorong oleh berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis teknologi digital-cybernetic. Teknologi ini telah dikembangkan secara massif, hadir begitu intensif, dan memprovokasi hadirnya pandangan baru terhadap realitas, termasuk  memprovokasi  pemikiran-pemikiran  baru  di  dalam  banyak  disiplin  ilmu   ̶ termasuk disiplin seni rupa dan desain.

Gelombang perkembangan teknologi digital yang tidak terelakan sebagai keniscayaan hidup di abad ke-21, akhirnya mendorong terjadinya era disrupsi (disruption). Era ini diwarnai perubahan-perubahan mendasar, baik dalam tingkat platform hingga pada praksisnya. Perubahan-perubahan itu menyentuh mulai dari persoalan di hulu (filosofi/kebijakan/regulasi) hingga pada persolan di hilir, yaitu berupa outcome yang terkait dengan capacity building pembangunan di tingkat nasional dan orientasi strategisnya di dunia global.

Era disrupsi mengantarkan perguruan tinggi generasi ketiga menuju perguruan tinggi generasi keempat. Perguruan tinggi generasi ketiga merupakan hasil evolusi perguruan tinggi generasi pertama dan kedua yang masih kuat dalam tradisi skolastik, yaitu menghasilkan sarjana monodisiplin yang ketat dan terbatas pada kompetensi yang bersifat linier. Sedangkan perguruan tinggi generasi ketiga menawarkan lompatan paradigma pengembangan ilmu dan teknologi berbasis interdisiplin dan multidisiplin. Hal ini membawa implikasi luas, yaitu bertemunya sejumlah disiplin dalam satu kerangka teoretik dalam satu penelitian.

Sementara itu, perguruan tinggi generasi keempat (4.0) secara revolusioner mendorong ke dalam kerangka pengembangan ilmu dan teknologi yang didasarkan pendekatan transdisiplin. Pendekatan ini membuka ruang lebih luas lagi berinteraksinya antar disiplin ilmu tanpa terkendala batas-batas di masing-masing disiplin yang sudah berabad-abad dipertahankan sebagai semacam kategori atau kekhasan yang satu sama lain saling terpisah.

Inilah era yang membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam revolusi ilmu dan teknologi yang secara hipotetik akan dapat menghasilkan inovasi-inovasi yang memiliki nilai tambah tinggi. Dalam konteks bidang ilmu seni rupa dan desain pada era perguruan tinggi generasi keempat ini, tentu dapat dipahami sebagai mutual-sciences. Disiplin seni rupa sebagai satu disiplin ilmu yang terbuka untuk berinteraksi dengan disiplin apapun secara nyata telah banyak melahirkan varian praktik dan wacana seni rupa yang telah banyak dipamerkan di berbagai forum nasional dan internasional. Munculnya New Media Art, misalnya, tidak bisa lepas dari berinteraksinya antara seni rupa, teknologi media, dan wacana global art. Begitu pula desain, yang berhibrida dengan beragam disiplin lain menurunkan berbagai kategori desain (komunikasi visual, produk, interior, engineering, fashion, interaction, game, dan lain sebagainya).

Seni rupa dan desain sebagai entitas budaya visual (visual culture) dalam realitas zaman sekarang telah akrab dan berkembang dalam laju percepatan teknologi, industri, trend, dan pasar global (global market). Berbagai laju percepatan tersebut saling berkaitan dan keniscayaan bagi seni rupa dan desain untuk berinovasi dengan mengedepankan inovasi (inovation) dan keberlanjutan (sustainability). Seni rupa dan desain dalam kancah global market tidak semata dimaknai sebagai persaingan pasar ‘produk’, namun juga dalam konteks percaturan wacana dan tegangan identitas.

Di pihak lain, seni rupa dan desain dalam konteks Indonesia dibingkai dalam realitas multikultural yang diyakini sebagai modal sosio-kultural yang sulit ditemukan di bangsa lain. Latar belakang etnik, budaya, dan geografis merupakan sumber kearifan lokal bernilai tinggi yang harus dipertemukan dengan globalitas. Keberagaman dan keunikan budaya bangsa Indonesia berpeluang besar untuk dijadikan sumber gagasan, subjek kajian itu sendiri untuk dipertemukan dengan gagasan-gagasan baru yang bermunculan secara massif di era industri 4.0., dan sekaligus dilihat sebagai peluang untuk mengembangkan industri kreatif.

Hal itu gayut dengan salah satu butir dari Sembilan Agenda Prioritas (Nawa Cita) yaitu “meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.” Daya saing merupakan keunggulan terhadap pesaing yang diperoleh dengan memberikan nilai dan manfaat lebih besar kepada konsumen. Daya saing ini memang sangat diperlukan dalam memasuki era industri saat ini yang disebut sebagai era 4.0. Daya saing ini bisa dimulai dari tingkat yang dasar yakni dari ranah pendidikan dulu. Dalam konteks ini adalah perguruan tinggi bidang seni rupa dan desain yang memang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kreativitas, produktivitas, dan inovasi.

Link: https://sendesunesa.net/

Poster Seminar Seni dan Desain 2018

© 2014 JURUSAN SENI RUPA . ALL RIGHTS RESERVED.