Dika Arif, Mahasiswa Seni Rupa Murni Unesa mengikuti Pameran Etsa di Yogyakarta

Pameran Yes…Okay..! Etcing Print Jawilan Project diselenggarakan pada 20 Juli-15 Agustus 2019. Bertempat di Awor Gallery & Coffe, Jalan C Simanjuntak Ruko Yap Square B.11 Terban, Gondokusuman, Yogyakarta, menampilkan 16 karya dari lima seniman antara lain Andika Wulansari, Tiara Yulianingtiyas, Dika Arif Wibowo, Drahma Rampaduky, dan Yoel Widyea.

pameran 1

Kurator pameran ini adalah Anton Subiyanto, seniman dan pendiri Club Etsa yang mewadahi seniman etsa muda. “Pameran ini diadakan untuk menjalin kedekatan dan memperkenalkan anggota baru Club Etsa yang sebelumya telah vakum”, ujar Anton. Lebih lanjut, pameran ini dibuat sebagai awal untuk pameran yang nantinya lebih besar.

Anton menjelaskan, pameran yang di dasari dengan “jawilan” dengan suatu ajakan ke kawan untuk di teruskan ke teman selanjutnya untuk membuat pameran karya cetak etsa. “Seperti pesan beranting, dan jawaban yang di berikan oleh anggota baru yang mulai tergiur untuk berpameran adalah “Yes …Okay!””, ujar Anton. Inilah yang mendasari pembuatan judul di dalam pameran ini.

Dika Arif Wibowo merupakan satu-satunya peserta seniman yang berasal dari luar Yogyakarta, yaitu Surabaya. Uniknya, selain ikut berpameran, Dika yang merupakan mahasiswa Seni Rupa Murni, Universitas Negeri Surabaya angkatan 2016 itu, sekarang sedang menjalani kegiatan magang di Studio Anton Subiyanto.

Dika Arif WIbowo

Dika Arif WIbowo

Dalam pameran ini, Dika menampilkan bentuk-bentuk organ tubuh manusia di dalam karyanya dengan gaya khas surealism. Menampilkan bentuk telinga dan kaki sebagai ungkapan di dalam penciptaan karyanya. “Semua itu berawal dari gagasan saya untuk melihat bahwa tubuh adalah satu peran yang vital yang mana juga sebagai alat yang mampu dan wajib ketika berinteraksi di lingkungan untuk menjalin hubungan sosial”, ujar Dika. Lebih lanjut, penekanan makna tubuh sebagai bagian dengan banyak fungsi yang membuatnya dapat berinteraksi dengan lingkup sosialnya.

pameran 2

Di dalam karyanya yang lain, Dika berkeinginan untuk merekam momen ketidakanyamanan yang ia alami saat berproses sebagai manusia. Ia yang sebelumnya telah nyaman di Surabaya seakan mengalami culture shock saat ia keluar dari zona nyaman dan mengalami perasaan keterasingan.

Rifandi, salah satu pengunjung pameran berkomentar bahwa pameran ini sangat unik. “Saya nggak tau kalau ada pameran. Saya niatnya mau nongkrong, tapi kok ada karya seni, jadi kesannya asyik dan seru”. Ada juga pengunjung yang asing dengan pameran yang berlangsung di Cafe, tentang bagaimana mereka menjadikan ruang alternatif publik sebagai ruang pamer juga menjadi hal yang unik dalam pameran ini. “Saya suka karya seni karena indah, tapi juga kadang bingung tentang karya seni” ujar Diki Hisbul, salah satu pengunjung pameran.

(Liputan Shaliha dan Lintang, mahasiswa SRM 2016)

Comments are closed.

© 2014 JURUSAN SENI RUPA . ALL RIGHTS RESERVED.