Jurusan Seni Rupa dan Jurusan Desain Menggelar Acara Creative Forum #1 ‘Custom to Campus’

Kekuatan pengorganisasian yang paling kuat dalam kehidupan modern adalah keterkaitan antara kegiatan dan hubungan interpersonal yang dilakukan individu untuk memberi makna pada kehidupan mereka. Keterkaitan tersebut memberi peluang dalam proses terciptanya relasi intepersonal yang mampu meningkatkan daya kreativitas individu. Berkaitan dengan hal tersebut, dengan melihat fenomena yang terjadi saat ini, maka semakin banyak pintu terbuka untuk membuka peluang pemunculan daya kreatif, salah satunya dengan arena kustom kultur. Untuk turut mendukung peningkatan daya kreatif dan critical thinking warganya, Jurusan Seni Rupa dan Jurusan Desain pada Senin, 29 April 2019 menggelar acara Creative Forum #1 dengan tema “Custom to Campus” yang mengundang pegiat kustom kultur di Indonesia regional Surabaya. Acara yang berlangsung dari pukul 09.00-17.00 ini bertempat di sekitaran Joglo Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya, dengan menyajikan pameran kustom kultur dan talkshow terkait wacana kustom kultur dan relevansinya terhadap dunia pendidikan seni di Indonesia.

Pameran Kustom KulturTalkshow Creative Forum dihelat pada 13.00-15.00 dengan pemateri Pras x Yurie dr Customland, Edo Verne Indonesia, Dicky Black Bones Mottoworks, Rockmad Custom, dan Joo Friday On Wheels, dengan lebih dari 200 mahasiswa sebagai peserta talkshow.

WhatsApp Image 2019-04-29 at 13.24.29Dwi Prasetya (Pras), saat diwawancarai tentang relevansi kustom kultur dengan dunia pendidikan seni menjawab, “basis kustom kultur ini adalah berkesenian khususnya dalam hal ini seni rupa dan desain (DKV, Seni Murni, Manajemen Seni, dan yang terkait). Lebih tepatnya pada pengembangan industri kreatif, agar setiap civitas akademika dan atau calon lulusan dapat terinspirasi, termotivasi dengan cara melihat, mendengar, merasakan, mengerti, memahami dan mengetahui lebih dekat dari apa yang kami lakukan melalui Custom to Campus ini”. Pernyataan Pras di atas, diamini oleh Tri Cahyo sebagai salah satu dosen yang hadir dalam acara tersebut. Ia mengatakan “acara kustom kultur ini bagus sekali, karena dapat membuka wawasan mahasiswa dengan acara yang menyenangkan namun sarat dengan nilai akademis”.

WhatsApp Image 2019-04-29 at 13.24.29(1)

Lebih lanjut, bagi Pras, dunia pendidikan seni harus melihat tren tersebut karena diyakini mampu membuka wacana terhadap gejala pemikiran dan pergerakan kustom kultur yang saat ini sudah menjadi fenomena dalam dunia seni dan berkendara di Tanah Air, dan mampu membuka lapangan kerja mandiri yang termanajemen dengan baik. Indah Crysanti Angge selaku Ketua Jurusan Seni Rupa mendukung argumen tersebut dengan mengatakan, “acara-acara seperti ini harus banyak dihelat. Zona nyaman mahasiswa dalam berkesenian dan berpemikiran harus ‘diganggu’ sehingga dari kegelisahan tersebut akan muncul ide-ide positif dan kreatif untuk bekal di masa depan”.

WhatsApp Image 2019-04-29 at 10.53.09

Akhir kata, seluruh pemateri menyarankan pendidikan seni agar semakin memberikan fasilitas kepada mahasiswa dalam meningkatkan daya kreatif guna bersaing di kancah industri kreatif masa kini. “Saya berharap, para fasilitator di pendidikan seni mampu memasukkan atau setidaknya menyisipkan unsur-unsur dasar keilmuan kustom kultur pada setiap matakuliah SRDG (seni rupa, desain, grafis), seperti: tipografi, kaligrafi, lettering, Ilustrasi, fotografi, manajemen desain dan pameran, pendalaman karya 2D, 3D, audio visual dan yang terkait lainnya; serta melestarikan dan memperkuat teknik berkarya secara manual di atas maraknya dunia digital”, ujar Pras. (paktejos)

Comments are closed.

© 2014 JURUSAN SENI RUPA . ALL RIGHTS RESERVED.